berita militer indonesia terbaru

Wednesday, 7 May 2014

Pesawat Tempur F/A-18 Hornet

0 komentar
F/A-18C milik Korps Marinir Amerika Serikat
---------------------------------
F/A-18 Hornet buatan McDonnell Douglas (kini menyatu ke dalam Boeing) adalah pesawat tempur supersonik serbaguna yang dapat dioperasikan dari dan ke kapal induk di segala cuaca, dirancang untuk
dapat bertempur di udara dan menyerang sasaran di darat (F/A adalah inisial untuk fighter (tempur) dan attack (serang)). F/A-18 adalah turunan dari YF-17 pada dasawarsa 1970-an untuk digunakan oleh Angkatan Laut dan Korps Marinir Amerika Serikat. Hornet juga digunakan oleh angkatan udara di beberapa negara. Pesawat ini telah menjadi pesawat peraga dirgantara bagi Skuadron Peraga Terbang Angkatan Laut Amerika Serikat, Blue Angels, sejak tahun 1986. Hornet berperan sebagai pesawat tempur pengawal, pertahanan udara, perusak pertahanan udara musuh, larangan udara, pesawat serang antigerilya, dan pesawat intai. Keserbagunaan dan keandalannya telah membuktikannya menjadi aset bernilai pada sebuah kapal induk, meskipun ia dikritik karena kelemahannya dalam hal jelajah dan daya muat dibandingkan dengan yang dimiliki pesawat-pesawat mutakhir pendahulunya, seperti F-14 Tomcat dalam hal peran tempur dan serang-tempur, dan A-6 Intruder dan A-7 Corsair II dalam hal peran serang.[3]
F/A-18 Hornet menjadi dasar bagi pengembangan F/A-18E/F Super Hornet, yakni pesawat tempur rancang-ulang F/A-18 yang lebih besar dan evolusioner. Dibandingkan dengan Hornet, Super Hornet berukuran lebih besar, lebih berat, dan terdapat perbaikan dalam hal daya jelajah dan daya muatnya. F/A-18E/F mulanya diusulkan sebagai alternatif bagi pesawat tempur yang sama sekali baru untuk menggantikan pesawat serang yang masih bertugas seperti A-6. Varian yang lebih besar juga diarahkan untuk menggantikan F-14 Tomcat yang sudah hampir uzur, dengan demikian dapat saling berganti-tugas dengan Hornet di Angkatan Laut Amerika Serikat, dan bertugas pada rentang peran yang lebih luas meliputi pengisian bahan bakar di udara, dan anjungan pengacau kelistrikan (electronic jamming platform).[4]
Northrop YF-17 dikembangkan menjadi F/A-18 yang mampu dioperasikan dari dan ke kapal induk.
-------------------
Pengembangan
Asal mula
Pengembangan F/A-18 adalah hasil dari Program Percobaan Tempur-Serang Angkatan Laut Amerika Serikat (VFAX) untuk mendapatkan pesawat tempur serbaguna untuk menggantikan A-4 Skyhawk, A-7 Corsair II, F-4 Phantom II dan sebagai pelengkap bagi F-14 Tomcat. Laksamana Madya Kent Lee, yang kelak menjadi Kepala Komando Sistem Udara Angkatan Laut (NAVAIR), adalah pendukung utama VFAX guna melawan pembangkang kuat dari banyak perwira Angkatan Laut, termasuk Laksamana Madya William D. Houser, wakil kepala operasi angkatan laut untuk peperangan udara - penerbang kelas tertinggi di angkatan laut.[5]
Pada bulan Agustus 1973, Kongres Amerika Serikat memerintah Angkatan Laut untuk mencarikan alternatif murah bagi F-14. Grumman mengusulkan pesawat F-14 yang disederhanakan dan diberi nama F-14X, sedangkan McDonnell Douglas mengusulkan F-15 varian angkatan laut, kedua-duanya hampir semahal F-14.[6] Pada musim panas itu, Menteri Pertahanan Schlesinger memerintahkan Angkatan Laut untuk memberi penilaian pesawat pesaing di Program Pesawat Tempur Ringan Angkatan Udara Amerika Serikat (LWF), General Dynamics YF-16 dan Northrop YF-17.[7] Kompetisi Angkatan Udara mensyaratkan pesawat tempur siang-hari tanpa kemampuan menyerang. Pada bulan Mei 1974, Komite Pelayanan Militer Dalam Negeri mengalihkan dana sebesar $34 juta dari program VFAX ke program baru, yaitu Pesawat Tempur Udara Angkatan Laut (NACF),[7] dimaksudkan untuk membuat penggunaan maksimum teknologi untuk program LWF.[6]
F/A-18 dipasang pada ketapel pada dek penerbangan USS Abraham Lincoln (CVN-72)
---------------------
Perancangan ulang YF-17
Meskipun YF-16 memenangi kompetisi LWF, Angkatan Laut Amerika Serikat merasa ragu bahwa sebuah pesawat bermesin tunggal dan dengan gir pendaratan yang sempit, dapat dengan mudah dan ekonomis diterapkan pada kapal induk. Angkatan Laut juga menolak mengadopsi turunan F-16. Angkatan Laut berupaya dan berjaya memenangi izin untuk mengembangkan sebuah pesawat berdasarkan YF-17. Karena LWF tidak memiliki persyaratan rancangan yang sama dengan VFAX, Angkatan Laut meminta McDonnell Douglas dan Northrop untuk merancang pesawat baru yang tidak berbeda jauh dengan konfigurasi dan prinsip desain YF-17. Pesawat baru ini, yakni F-18, tidak memiliki dimensi inti atau struktur primer yang sama dengan YF-17. Sekretaris Angkatan Laut, W. Graham Claytor, pada 1 Maret 1977 mengumumkan bahwa pesawat ini akan bernama "Hornet".[6]
Northrop telah menyertakan bantuan McDonnell Douglas sebagai kontraktor sekunder dari proposal NACF, untuk memanfaatkan pengalaman ekstensif terdahulu dalam pembuatan pesawat tempur peruntukan kapal induk, termasuk F-4 Phantom II yang sangat sukses. Pada projek F-18, dua perusahaan itu setuju untuk membagi dua pengerjaan, di mana tugas McDonnell Douglas adalah melengkapkan perakitan akhir, setara dengan ~20% pengerjaan. McDonnell Douglas membuat sayap, penstabil, dan badan pesawat bagian depan; Northrop membuat badan pesawat bagian tengah dan belakang, dan penstabil vertikal. McDonnell Douglas adalah kontraktor utama bagi versi Angkatan Laut.[7] Northrop menjadi kontraktor utama dan mengambil alih perakitan akhir bagi F-18L versi landas pacu di darat, di mana Northrop berharap menjual untuk tujuan pasar ekspor.[6]
F-18, mulanya dikenal sebagai McDonnell Douglas Model 267, dimodifikasi secara drastis dari YF-17, di mana konfigurasi dasarnya masih dipertahankan. Untuk penugasan di kapal induk, kerangka pesawat, cantelan pengangkut senjata, dan pengait penangkap diperkuat; sayap yang dapat melipat dan kaitan ketapel disertakan; dan gir pendaratan diperlebar.[8] Untuk memenuhi persyaratan jelajah dan cadangan Angkatan Laut, McDonnell memperbesar daya muat bahan bakar sebanyak 2.020 kg, dengan perluasan sirip belakang dan penambahan 363 liter bahan bakar di tiap-tiap sayap (sayap YF-17 tidak berbahan bakar). Yang paling mudah terlihat, "tonjolan" ditambahkan pada tepi depan sayap dan penstabil untuk mencegah debaran yang ditemukan pada penstabil F-15. Sayap dan penstabil diperluas, badan pesawat bagian belakang diperlebar sebesar 102 mm, dan mesin dimiringkan ke luar pada bagian depannya. Perubahan ini menambah 4.540 kg pada bobot kotor, menjadikannya seberat 16.800 kg. Sistem kendali berbantuan komputer pada YF-17 diganti dengan sistem fly-by-wire yang sepenuhnya digital dengan perulangan ganda-empat, yang pertama dipasang pada pesawat tempur produksi.[8]
Perencanaan semula mendapatkan 780 buah dari tiga model yang berhubungan dekat: pesawat tempur satu kursi F-18A dan pesawat serang darat A-18A, hanya berbeda dalam avioniknya, dan TF-18A dua kursi, yang mempertahankan kemampuan misi penuh F-18,[3] kecuali dengan daya muat bahan bakar yang dikurangi. Dengan perancangan ulang stasiun penyimpanan dan perbaikan avionik dan tampilan layar serbaguna, adalah menjadi mungkin untuk memadukan A-18A dan F-18A ke dalam satu pesawat.[6] Sejak tahun 1980, pesawat ini disebut sebagai F/A-18A, dan rancangannya pertama diluncurkan pada 1 April 1984. TF-18A dirancang ulang menjadi F/A-18B.[3][6]
F/A-18 milik Angkatan Laut Amerika Serikat pada sebuah misi Operation Enduring Freedom pada tahun 2002
-----------------------
F-18L dari Northrop
Northrop mengembangkan F-18L sebagai pesawat yang berpotensi ekspor. Karena F-18L tidak diperkuat untuk mampu bertugas di kapal induk, ia diharapkan untuk berkinerja lebih ringan dan lebih baik,[9] dan menjadi pesaing berat F-16 Fighting Falcon, kemudian ditawarkan ke negara-negara sekutu Amerika. Bobot kotor maksimum F-18L adalah 3.490 kg, hampir 30% lebih ringan daripada F/A-18A, karena gir pendaratan yang lebih ringan, mekanisme sayap lipat dihilangkan, ketebalan di beberapa area pesawat dikurangi, daya muat bahan bakar dikurangi. Meskipun pesawat ini memelihara pengait penangkap yang diperingan, perbedaan bagian luar yang paling jelas terlihat adalah penghilangan "tonjolan" di tepi depan sayap dan penstabil. Pesawat ini masih memelihara 71% kesamaan dengan F/A-18 menurut bobot komponennya, dan 90% sistem bernilai tinggi, termasuk avionik, radar, dan rangkaian ECM, meskipun ada beberapa pilihan yang ditawarkan. Berbeda dengan F/A-18, F-18L tidak menyertakan bahan bakar di sayapnya dan kekurangan stasiun senjata di pipa masuknya. Pesawat ini memiliki tiga penyangga di bawah masing-masing sayap.[10]
Kemitraan antara McDonnell Douglas dan Northrop memanas ketika persaingan ekspor dua model itu dimulai. Northrop merasa bahwa McDonnell Douglas menempatkan F/A-18 pada persaingan langsung dengan F-18L. Pada bulan Oktober 1979, Northrop mengajukan gugatan hukum bahwa McDonnell menggunakan teknologi Northrop yang sebelumnya diperuntukan bagi F-18L untuk tujuan ekspor sehingga dianggap melanggar perjanjian, dan meminta penangguhan ekspor Hornet melalui McDonnell Douglas. Kasus ini diselesaikan pada tahun 1985 ketika McDonnell setuju membayar kepada Northrop sebesar $ 50 juta untuk memenuhi hak pengembangan pesawat, tanpa mengakui kesalahan. Segera setelah itu Northrop menghentikan pengerjaan F-18L, dan sebagian besar pesanan direbut oleh F-16 atau F/A-18.[10]
Sebuah Hornet menampilkan aksi panjat dengan g yang besar pada sebuah pameran dirgantara. Sudut serang yang besar menyebabkan terbentuknya pusaran ujung sayap yang kuat di tepi depan perluasan.
------------------------------------
Menuju produksi
Selama uji terbang, tonjolan pada tepi depan penstabil disertakan, dan celah antara perluasan tepi depan (LEX) dan badan pesawat ditambahkan. Celah-celah, yang disebut "pelepasan udara lapisan perbatasan" (boundary layer air discharge) (BLAD), mengendalikan pusaran-pusaran yang dihasilkan oleh LEX dan memberikan udara bersih kepada penstabil vertikal pada sudut serang yang besar, tetapi mereka juga menghasilkan sejumlah besar geseran yang merugikan, memperburuk masalah jelajah F/A-18 yang tidak memadai. McDonnell mengisi 80% celah, meninggalkan celah yang kecil pada bleed air dari asupan mesin. Ini menjadi pemicu awal masalah dengan keretakan yang melelahkan yang muncul pada penstabil vertikal karena muatan aerodinamis yang ekstrem, hasilnya adalah pemarkiran singkat pada tahun 1984 hingga penstabil selesai diperkuat. Sejak Mei 1988, penadah vertikal kecil ditambahkan pada puncak tiap-tiap LEX untuk memperluas pusaran dan mengarahkannya supaya menjauhi penstabil vertikal. Ini juga memberikan perbaikan kecil dalam hal keterkendalian sebagai dampak samping.[11] F/A-18 versi dini bermasalah dengan laju goncang yang tidak memadai, diperuncing oleh kekakuan sayap yang tidak memadai, terkhusus dengan muatan persenjataan di bawah sayap yang berat. Produksi pertama F/A-18A terbang pada 12 April 1980. Setelah produksi berjalan sebanyak 380 unit F/A-18A[12] (termasuk sembilan diberikan kepada pengembangan sistem penerbangan), pembuatan pesawat ini beralih pada versi F/A-18C sejak September 1987.[3]
Desain
F/A-18 adalah pesawat yang memiliki mesin kembar, sayap tengah, dan dapat menjalani berbagai misi taktis. Pesawat ini sangat lincah, sebagai dampak dari rasio dorongan-terhadap-bobot pesawat yang baik, sistem kendali digital fly-by-wire, dan perluasan tepi depan (leading edge extensions) (LEX). LEX memungkinkan Hornet untuk tetap dapat dikendalikan pada sudut serang yang besar. Ini karena LEX menghasilkan pusaran yang kuat di atas sayap, menghasilkan aliran udara yang bergolak di atas sayap, dan dengan demikian menunda atau menghilangkan pemisahan aerodinamis yang bertanggung jawab bagi kehilangan keefektifan permukaan aerodinamika (stall), memungkinkan sayap Hornet menghasilkan gaya angkat yang besarnya beberapa kali bobot pesawat, meskipun pada sudut serang yang besar. Oleh karena itu, Hornet mampu berbalik pada putaran yang ekstrem dengan rentang laju yang variatif. Penstabil vertikal miring adalah unsur desain pembeda lainnya, dan di antara karakteristik desain lainnya yang memungkinkan kemampuan sudut serang besar pada Hornet adalah penstabil horizontal yang diperbesar, penutup tepi trailing yang diperbesar yang beroperasi sebagai flaperon, flap yang besar dan panjang, dan pemprograman komputer kendali terbang yang melipatgandakan pergerakan tiap-tiap paras kendali pada laju rendah dan memindahkan kemudi vertikal, bukan sekadar ke kiri dan ke kanan. Selimut kinerja sudut serang normal pada Hornet diletakkan untuk pengujian menyeluruh dan perbaikan pada NASA F-18 Kendaraan Penelitian Alfa Tinggi (HARV). NASA menggunakan F-18 HARV untuk memeragakan karakteristik penanganan terbang pada sudut serang yang besar, yakni 65-70 derajat menggunakan baling-baling pemvektor daya dorong.[13] Penstabil F/A-18 juga digunakan sebagai kanard pada F-15S/MTD milik NASA. Hornet adalah salah satu pesawat terdini yang sangat banyak memanfaatkan tampilan serbaguna, di mana pada switch suatu tombol memungkinkan pilot mengendalikan kinerja tempur atau serang-darat atau kedua-duanya. Kemampuan "pengganda kekuatan" ini memberikan komandan operasi keluwesan yang lebih baik dalam hal pengendalian pesawat taktis pada suatu skenario perang yang berubah-ubah dengan cepat. Inilah pesawat tempur angkatan laut yang memadukan bus avionik multipleks digital, yang memungkinkan perbaruan dengan mudah.[3]
F/A-18 Hornet in transonic flight (Note Prandtl-Glauert condensation).
-----------------
Evolusi desain
Pada dasawarsa 1990-an, Angkatan Laut Amerika Serikat merasa perlu untuk mengganti pesawat-pesawat tempurnya yang sudah mulai uzur, seperti A-6 Intruder, EA-6 Prowler, A-7 Corsair II, dan F-14 Tomcat, tanpa memerlukan pengembangan yang wajar. Untuk menjawab kekurangan ini, Angkatan Laut mengembangkan F/A-18E/F Super Hornet. Meskipun perancangannya serupa, Super Hornet bukanlah perbaikan dari F/A-18 Hornet, melainkan pesawat berkerangka lebih besar yang memanfaatkan konsep desain Hornet. Hornet dan Super Hornet bertugas dengan peran yang saling mengisi di dalam cadangan kapal induk Amerika Serikat, hingga dapat dioperasikannya F-35C Lightning II, yang akan menggantikan F/A-18A-D Hornet.
Read more...
Monday, 5 May 2014

Pesawat tempur F-35 Lightning II

0 komentar
F-35 Lightning II adalah hasil pengembangan dari pesawat X-35 dalam program Joint Strike Fighter. Pesawat ini adalah pesawat tempur berkursi tunggal, bermesin tunggal, yang dapat melakukan banyak fungsi,
antara lain pertempuran udara-ke-udara, dukungan udara jarak dekat, dan pengeboman taktis. Pengembangan pesawat ini dibiayai oleh Amerika Serikat, Britania Raya dan beberapa negara lainnya. Pesawat ini dikembangkan dan diproduksi oleh industri kedirgantaraan yang dipimpin oleh Lockheed Martin serta dua rekan utamanya, BAE Systems dan Northrop Grumman. Pesawat demonstrasi pertama kali terbang pada tahun 2000, dan pesawat versi produksi pertama kali terbang pada 15 Desember 2006.
F-35 pada ILA Airshow 2002.
--------------------
Pendahuluan
F-35 Lightning II atau Joint Strike Fighter adalah pesawat tempur generasi ke 5, produksi kerjasama Lockheed Martin, Northrop Grumman, dan BAE Systems. Pesawat super canggih ini mempunyai kapabilitas "Stealth", tidak akan terlihat di radar lawan. Jumlah persenjataan dan amunisi yang bisa dibawanya pun lebih bayak dibanding pesawat-pesawat tempur generasi sebelumnya, seperti F-16 dan F-18. F-35 Lightning II adalah pesawat canggih yang mampu mengelak dari radar lawan. Pesawat ini merupakan hasil pengembangan dari pesawat X-35 dalam program Joint Strike Fighter. Pesawat ini adalah pesawat tempur berkursi tunggal, bermesin tunggal, yang dapat melakukan banyak fungsi, antara lain pertempuran udara-ke-udara (dogfight), dukungan udara jarak dekat, serangan ke permukaan, dan pengeboman taktis. F-35 Lightning JSF bentuknya seperti pesawat jet tempur modern, tetapi yang membuat jet ini khusus adalah perangkat lunak dan kemampuan mengumpulkan data intelijen.
JSF juga merupakan pesawat mata-mata di angkasa. Pesawat ini dapat mengumpulkan informasi dari angkasa luar, darat dan pesawat lain, dan kemudian mengirimkannya ke para komandan di darat. Pilot mempunyai "mata dewa" saat perang. Dengan menekan sebuah tombol, maka sebuah kamera yang berada di bawah akan mulai bekerja, yang berfungsi untuk melihat keseluruhan pesawat. Saat terbang, jet ini mengetahui cara melayang lebih baik daripada pilot Harrier terbaik. Pilot tidak disibukkan dengan mengemudi sehingga lebih dapat memusatkan perhatian berperang. Pengembangan pesawat ini dibiayai oleh Amerika Serikat, Britania Raya dan beberapa negara lainnya. Pesawat demonstrasi, pertama kali terbang pada tahun 2000, dan pesawat versi produksi pertama kali terbang pada 15 Desember 2006. Steve Long, adalah pilot RAF pertama yang mengemudi jet satu kursi tersebut.
---------------------
Sejarah
Program JAST
Program Joint Advanced Strike Technology (JAST) dimulai pada tahun 1993 dari hasil Bottom-Up-Review Departemen Pertahanan Amerika Serikat . Departemen Pertahanan juga memutuskan untuk tetap mengembangkan F-22 yang sewaktu itu kontroversial, membatalkan program Multi-Role Fighter (MRF) dan A/F-X, serta menghentikan pembelian F-16 dan F/A-18C/D.
Kantor program JAST dibentuk pada 27 Januari 1994. Tujuannya adalah untuk mengembangkan pesawat, persenjataan, dan teknologi sensorik yang akan dipakai pada pengembangan pesawat taktis di masa depan. Kemudian program JAST digabungkan dengan program Common Affordable Lightweight Fighter (CALF), membentuk program Joint Strike Fighter (JSF).
X-32 dan X-35
Kontrak JSF diberikan kepada Lockheed Martin dan Boeing pada tanggal 16 November 1996. Masing-masing perusahaan diharuskan untuk membuat dua pesawat yang dapat mendemonstrasikan lepas landas dan mendarat konvensional (conventional takeoff and landing, CTOL), lepas landas dan mendarat pada kapal induk, dan lepas landas pendek dan mendarat vertikal (short-takeoff and vertical-landing, STOVL). Lockheed Martin mengembangkan X-35 dan Boeing mengembangkan X-32. Pada tanggal 26 Oktober 2001, diumumkan bahwa X-35 Lockheed Martin mengalahkan X-32 Boeing. Petinggi Departemen Pertahanan Amerika Serikat dan Inggris menyatakan bahwa X-35 secara konsisten mengungguli X-32, walaupun keduanya sudah memenuhi syarat.
F-35A pada upacara inagurasinya.
------------------
Penamaan
Lockheed Martin, yang mengembangkan pesawat ini dengan nama "F-24", terkejut ketika mengetahui bahwa pesawat ini akan diberi nama "F-35". Pada 7 Juli 2006, Angkatan Udara Amerika Serikat secara resmi mengumumkan nama F-35, yaitu Lighting II. Nama ini juga dipakai untuk mengenang pesawat sebelumnya, yaitu P-38 Lightning dan English Electric Lightning. Nama lain yang sempat dipikirkan adalah Kestrel, Phoenix, Piasa, Black Mamba, dan Spitfire II. Lighting II juga sempat menjadi nama untuk F-22 Raptor.
Pengetesan
Pada 19 Februari 2006, F-35A pertama dimunculkan di Fort Worth, Texas. Pesawat ini melewati pengetesan darat yang berat di Edwards Air Force Base pada musim gugur 2006. Pada 15 September, pengetesan pertama mesin Pratt & Whitney F135 dilakukan, dan diselesaikan pada 18 September dengan pengetesan afterburner. Kemudian pada tanggal 15 Desember, F-35A melakukan penerbangan pertamanya.
Varian
Program Joint Strike Fighter didirikan untuk mengantikan pesawat tempur lama, dengan biaya pengembangan, produksi, dan operasi yang relatif kecil. Ini dicapai dengan membuat pesawat tempur dengan tiga varian, yang masing-masing memiliki kesamaan 80%. Ketiga varian tersebut adalah:
F-35A, Pesawat lepas landas dan mendarat konvensional (conventional takeoff and landing, CTOL) yang akan menggantikan F-16 Fighting Falcon Angkatan Udara Amerika Serikat mulai tahun 2011.
F-35B, Pesawat lepas landas pendek dan mendarat vertikal (short-takeoff and vertical-landing, STOVL) yang akan menggantikan AV-8 Harrier II dan F/A-18 Hornet Korps Marinir Amerika Serikat serta Angkatan Laut Italia, dan Harrier GR7/GR9 Britania Raya mulai tahun 2012.
F-35C, Pesawat kapal induk yang akan menggantikan F/A-18 Hornet (varian A/B/C/D saja) Angkatan Laut Amerika Serikat mulai tahun 2012.
Read more...
Sunday, 4 May 2014

2040, Target Lapan Roket 700 km dan membawa muatan 1 ton

0 komentar
Liputan6.com, Jakarta - Indonesia akan memiliki bandar antariksa beserta roket peluncur satelit sejauh 700 kilometer dalam 25 tahun ke depan. Tak ketinggalan satelit penginderaan jauh dan satelit komunikasi.

Saat ini Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) tengah menyiapkan rencana induk 25 tahun (2015-2040) yang di dalamnya berisi rencana pembangunan program-program tersebut. Rencana induk ini juga untuk mendukung UU Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan.


Untuk roket peluncur satelit, Lapan kini fokus merancang dan mengembangkan roket muatan atau sonda. Namun pengembangan roket ini mengalami hambatan.

"Cita-cita itu ada, jadi roket untuk peluncur satelit itu menjadi cita-cita pengembangan roket di Lapan," kata Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin kepada Liputan6.com saat bertandang ke kantornya di Jakarta baru-baru ini.

Namun tak mudah untuk bisa merealisasikan mimpi membangun roket peluncur itu. Sebab, kata Djamaluddin, tak ada institusi di negara mana pun yang bersedia membagi ilmu pembangunan roket begitu saja. "Teknologinya itu tidak bisa dipelajari sendiri."

"Tidak ada sekolah yang memberikan ilmu pengembangan roket, karena ini sangat sensitif. Roket bisa dimanfaatkan untuk keperluan militer, sehingga negara-negara tidak mungkin memberikan begitu saja teknologi roket itu. Sehingga kita harus mengembangkan sendiri atau mungkin bermitra dengan negara mitra kita," tandas Djamaluddin.

Belum lagi, kata Djamaluddin, kebijakan Missile Technology Control Regime (MTCR) yang juga harus dipertimbangkan. MTCR itu adalah semacam perjanjian internasional terkait pembatasan teknologi misil, roket yang dimuati persenjataan. Saat ini Lapan tengah mempelajari kebijakan MTCR itu.

"Kita belajar bagaimana Brazil misalkan, ketika membuat bandar antariksa termasuk juga eksperimen peluncuran roket itu. Pada tahap awal memang bersikukuh tidak mau ikut dalam MTCR. Tapi dalam perkembangannya, itu tidak bisa bertahan seperti itu. Kemudian ikut dalam perjanjian internasional tersebut, tetapi dengan aturan-aturan yang ketat," papar Djamaluddin.

"Kita belum terpikir masalah yang terkait dengan MTCR seperti itu, apakah kita masuk atau tidak? Masih banyak faktor yang dipertimbangkan di sana" imbuh ahli astronomi ini.

Meluncur 2040

Sementara Kepala Pusat Teknologi Roket (Kapustekroket) Rika Andiarti mengatakan, rencana induk ini masih dalam pembahasan. Namun, dia optimistis Indonesia akan mengejar ketertinggalan teknologi peroketan pada 2040 mendatang.

"Kami memang sekarang sedang mempersiapkan rencana induk keantariksaan untuk 25 tahun mendatang. Inginnya di tahun 2040 kami sudah mampu meluncurkan satelit remote sensing seberat 1 ton ke orbit 700 kilometer," harap wanita berkerudung ini.

Menurut Rika, saat ini Lapan telah mengembangkan roket besar RX-550 dan RX-420 dengan jangkauan di atas 200 kilometer. Untuk menyempurnakan roket ini, Lapan menggandeng beberapa negara lain, salah satunya Ukraina.

(Nadya Isnaeni Panggabean)

Sumber : http://news.liputan6.com/read/204535...t-sendiri-2040
Read more...
Saturday, 3 May 2014

2 Helikopter Militer Ukraina Ditembak Jatuh Pemberontak Pro-Rusia

0 komentar
Kiev, - Dua helikopter militer Ukraina ditembak jatuh para pemberontak saat melancarkan serangan terhadap para pemberontak pro-Rusia di kota Slavyansk, Ukraina hari ini. Dua personel militer Ukraina tewas dalam insiden tersebut.

"Serangan berskala penuh tengah dilancarkan," kata juru bicara pemberontak di Slavyansk seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (2/5/2014).

Menurut AFP, delapan kendaraan lapis baja dan 100 tentara Ukraina
bergerak maju ke kota tersebut. Ledakan-ledakan dan suara-suara tembakan terdengar secara sporadis. Sejumlah helikopter pun tampak terbang sangat rendah di atas kota tersebut.

Kementerian Pertahanan Ukraina menyatakan, dua helikopter Mi-24 telah ditembak jatuh para pemberontak pro-Rusia dan menewaskan dua personel. Sebuah helikopter Mi-8 juga sempat terkena tembakan para pemberontak, namun tak ada yang terluka.

Menteri Dalam Negeri Ukraina Arsen Avakov mengatakan bahwa salah seorang korban tewas adalah pilot. "Ini pertempuran sesungguhnya yang sedang kami lancarkan terhadap para profesional bayaran," tutur Avakov.

Menurut Avakov, para pemberontak menggunakan perisai manusia dengan melepaskan tembakan dari tempat-tempat di blok-blok apartemen besar. Ditandaskan Avakov, tujuan operasi militer ini adalah untuk memaksa para pemberontak membebaskan para sandera yang mereka sekap, juga agar para pemberontak menyerahkan diri.

Sejak pekan lalu, para pemberontak di Slavyansk telah menyandera tujuh inspektor Eropa dari Organization for Security and Cooperation di Eropa. Ketujuh inspektor itu ditahan para pemberontak di balai kota.
Read more...

Peswat Tempur Yakovlev Yak-141

0 komentar
Yakovlev Yak-141 ( NATO pelaporan nama Freestyle), juga dikenal sebagai Yak-41, adalah pesawat tempur supersonik vertikal lepas landas / mendarat (VTOL) yang dirancang oleh Yakovlev . Yakovlev
Yak-141 Freestyle adalah pesawat jet tempur berkecepatan supersonik yang memiliki kemampuan lepas-landas dan mendarat secara vertikal (VTOL: Vertical Take-Off and Landing). Jet tempur ini dirancang oleh perusahaan Yakovlev, Rusia yang waktu itu masih berbentuk Uni Soviet. Oleh beberapa kalangan, pesawat ini hanya disebut dengan nama Yak-41 saja. Pihak NATO menyebutnya dengan nama Freestyle dalam laporannya.
Menjawab kebutuhan Angkatan Laut Uni Sovyet pada pesawat tempur yang secara komprehensif mampu diandalkan untuk misi pertahanan udara armada laut, perusahaan Yakovlev menawarkan desain Yak-41 kepada militer Soviet pada tahun 1975. Dengan segera tawaran ini diterima tanpa melalui proses tender yang melibatkan perusahaan dirgantara Soviet / Rusia yang lain seperti Sukhoi dan Mikoyan. Dan Alexander Yakovlev Sergeyevich pun ditunjuk untuk memimpin proyek pengembangan jet tempur supersonik berteknologi VTOL ini.
Meskipun telah dibuat beberapa prototipe pesawat Yak-141 Freestyle dan telah berhasil menjalani uji coba penerbangan, namun akhirnya proyek pengembangan dan pembuatan jet tempur VTOL ini terpaksa dihentikan oleh pihak Soviet (Rusia) karena alasan tidak adanya anggaran. Source, http://id.wikipedia.org/wiki/Yakovlev_Yak-141
Read more...
Thursday, 1 May 2014

Berikut Daftar Lengkap Kota-kota di Ukraina yang Sudah Dikuasai Milisi Pro Rusia

0 komentar
Penyerbuan kantor polisi oleh milisi Pro Rusia (Foto: Ist)
14 kota berada di tangan cengkeraman pemberontak.
KIEV, Jaringnews.com - Pemberontak Pro Kremlin di Ukraina Timur yang banyak dipercaya oleh Barat dan Amerika didukung oleh Pasukan Khusus Moskow terus menguasai kota-kota di Ukraina Timur yang mayoritas penduduknya berbahasa Rusia. Hingga Kamis ini, belasan kota di Ukraina Timur telah jatuh ke tangan milisi ini.

Kota-kota yang telah dikuasi oleh pemberontak pro Rusia yaitu:

1. Slavyansk. Kota ini menjadi pusat aktivitas pemberontak dan adegan kekerasan dan penculikan. Pada tanggal 12 April lalu, orang-orang bersenjata pro - Rusia merebut gedung polisi di kota ini. Diperkirakan sekitar 120.000 sampai 140.000 orang merampok arsenalnya. Mereka kemudian mengambil alih balai kota dan dinas keamanan SBU pada hari yang sama.


2. Donetsk. Kota dengan satu juta orang ini adalah pusat dari wilayah Donetsk, yang meliputi Slavyansk dan merupakan jantung dari apa yang disebut kaum pemberontak sebagai "Republik Donetsk". Gedung Administrasi Daerah berhasil diduduki pada 6 April dan balai kotanya pada 16 April.

3. Lugansk. Kota dengan 465.000 penduduk yang juga merupakan jantung regional wilayah Lugansk ini memproklamirkan diri sebagai "Republik Lugansk". Gedung layanan keamanan direbut oleh sekitar 1.000 pengunjuk rasa pro - Rusia  pada 6 April. Pada 29 April, ratusan warga dengan didukung orang-orang bersenjata canggih mengambil alih gedung administrasi daerah, kantor kejaksaan dan stasiun televisi lokal. Mereka mengepung markas polisi daerah, tetapi mundur ketika kepala polisi setuju untuk mengundurkan diri.

4. Kramatorsk. Bertetangga dengan Slavyansk atau 100 kilometer dari Donetsk, kota dengan 160.000 penduduk ini mengambil alih balai kota pada 12 April lalu selama unjuk rasa oleh lebih dari 1.000 demonstran pro Rusia. Pada 15 April, peringatan bom yang ternyata palsu membersihkan bangunan, tetapi militan mengambil alih gedung SBU di dekatnya. Pada 21 April, militan pro Rusia mengambil kembali secara paksa balai kota. Sebuah pangkalan militer Ukraina yang terletak di luar kota pun telah menangkis beberapa serangan.

5. Gorlivka (juga dikenal sebagai Horlivka) dengan jumlah penduduk 260.000 jiwa. Massa pro Rusia menyita kantor polisi setempat pada 14 April. Selanjutnya, pada 30 April, militan ini menguasai kepolisian regional dan balai kota.

6. Makiivka, dekat Donetsk dan dengan 360.000 penduduk: balai kota diambilalih 13 April.

7. Artemivsk, populasi 78.000 jiwa: balai kota diduduki oleh para aktivis pro - Rusia pada 12 April.

8. Yenakieve, populasi 85.000 jiwa:  Kantor polisi dan kantor kejaksaan diambil alih pada 13 April.

9. Khartsyzk, 60.000 penduduk: balai kota disita pada 14 April.

10. Zhdanivka, 14.000 penduduk: balai kota disita pada 14 April .

11. Kirovske, 28.000 penduduk: balai kota disita pada 14 April .

12. Torez, 80.000 penduduk: balai kota diambil pada 15 April .

13. Kostyantynivka, 80.000 penduduk: balai kota disita pada 28 April.

14. Pervomaisk, 40.000 penduduk: balai kota disita pada 29 April .

Dalam kemenangan langka bagi pasukan keamanan Ukraina, kota pelabuhan tenggara Mariupol dengan populasi 480.000 berhasil direbut dari tangan pemberontak pro - Moskow pada 25 April. Sementara polisi kini menguasai balai kota, beberapa pengunjuk rasa pro Rusia tetap berada di luar gedung.

Read more...

Pesawat Boeing X-32

0 komentar
Boeing X-32 adalah jet tempur multi-purpose dalam kontes Joint Strike Fighter . Awalnya adalah pesawat demonstrator Lockheed Martin X-35 yang kemudian berkembang menjadi Lockheed Martin F-35 Lightning
II. Pada tahun 2005, Boeing X-32A dipindahkan ke Museum Nasional Angkatan Udara Amerika Serikat di Dayton, Ohio .
Boeing X-32B on display at the Patuxent River Naval Air Museum. This lost the Joint Strike Fighter competition to Lockheed Martin's X-35 (now the F-35 Lightning II), with the testing conducted at the nearby Naval Air Station Patuxent River. A Lockheed S-3B Viking is in the background.
----------------------
Kondisinya memburuk karena berada di luar selama beberapa tahun setelah akhir kompetisi JSF. X-32B dipindahkan ke Patuxent River Naval Air Museum di St. Mary's County, Maryland pada tahun 2005. X-32B ini menjalani restorasi pemulihan di fasilitas museum pada bulan Juni 2009.
Read more...
 
beritamiliterindonesia © 2014 | Designed By Blogger Templates