berita militer indonesia terbaru

Tuesday, 12 August 2014

"Call of Duty: Advanced Warfare" Tersedia Mode Multiplayer

0 komentar
Sledgehammer Studios/"PRLM"
"CALL of Duty: Advanced Warfare" dalam mode multiplayer ini akan memiliki fitur "exo-skeleton".*
SAN FRANCISCO, (PRLM).- Disiarkan melalui web, dengan puluhan ribu pengguna secara bersamaan pada saluran komunitas gamer Twitch, Activision telah mengungkapkan mode multiplayer untuk game "Call of Duty: Advanced Warfare."
Read more...

Teknologi Software & Gadget Perkuat Militer AS

0 komentar
CALIFORNIA - Perangkat smartphone atau tablet tidak hanya dipakai oleh publik pada umumnya. Tentara di AS juga memanfaatkan perangkat gadget serta software yang digunakan saat berada di medan perang.

Dilansir Gizmodo, Senin (11/8/2014), militer AS disokong melalui riset-riset atau inovasi Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA). DARPA merupakan badan yang mengembangkan teknologi untuk mendukung militer, termasuk pembuatan robot dan software.
Read more...

Jerman: tak ada bantuan militer buat pasukan kurdi Irak

0 komentar
Berlin - Jerman telah menjelaskan bahwa "tak ada" pengiriman senjata Jerman untuk pasukan Kurdi di Irak, demikian laporan stasiun televisi umum Jerman, ARD, Senin (11/8).

Juru Bicara Pemerintah Jerman Steffen Seibert pada Senin, mengatakan menurut prinsip-prinsip Pemerintah Jerman, Jerman tak menyediakan senjata buat daerah konflik, kata ARD di jejaringnya.
Read more...
Saturday, 9 August 2014

Nagaski Peringati 69 Tahun Serangan Bom Atom AS

0 komentar

NAGASAKI - Nagasaki, salah satu kota yang menjadi korban serangan bom atom Amerika Serikat (AS) saat Perang Dunia II lalu, melakukan peringatan atas tragedi itu. Tahun ini mereka memperingati 69 tahun tragedi yang telah melumpuhkan Jepang tersebut.

Melansir Xinhua, Sabtu (9/8/2014), Walikota Nagasaki, Tomihisa Taue, dalam pidatonya menyatakan, senjata nuklir adalah ancaman nyata bagi kehidupan manusia, baik di masa kini ataupun di masa depan. Taue juga mengkritik kebijakan baru Jepang mengenai pembentukan kembali militer mereka.

Read more...
Thursday, 24 July 2014

Pemberontak Ukraina Akui Punya Rudal BUK

0 komentar
Seorang pemimpin kelompok pemberontak yang berkuasa di timur Ukraina, Alexander Khodakovsky, mengakui anggotanya memiliki rudal anti pesawat jenis SA-11 atau dikenal juga BUK. Rudal inilah yang diduga digunakan untuk menembak jatuh pesawat Malaysia Airlines MH17 pada Kamis, 17 Juli 2914. 

Dalam wawancara khusus dengan kantor berita Reuters yang diunggah Rabu 23 Juli 2014, Khodakovsky yang merupakan komandan Batalion Vostok itu mengatakan, tidak menutup kemungkinan rudal tersebut dikirim dari Rusia. Namun, dia tidak yakin betul, sistem rudal BUK mana yang digunakan untuk menembak pesawat MH17 tersebut. 

Sebab, kata dia, kelompok separatis juga pernah merebut tiga sistem rudal BUK dari pasukan Ukraina di titik pemeriksaan pada April lalu. Satu sistem rudal lainnya direbut di dekat bandara Donetsk. 

"Saya tahu ada sebuah BUK datang dari arah Luhansk. Saat itu, saya diinformasikan BUK dari Luhansk itu menggunakan bendera LNR," ungkap Khodakovsky. 

LNR yang dirujuk Khodakovsky merupakan kelompok pemberontak utama bernama Republik Rakyat Luhansk dan beroperasi di sana. Dia menambahkan, BUK yang dia tahu dan dengar kemungkinan dikirim kembali untuk menghilangkan barang bukti. 

"Karena saya mengetahui mengenai BUK tersebut di saat yang sama ketika saya menyadari tragedi itu berlangsung. Mungkin mereka mengirimkan BUK itu kembali untuk menghilangkan bukti, alutsista tersebut pernah dikirim ke sana," papar Khodakovsky pada Selasa kemarin. 

Salahkan Ukraina

Kendati mengakui memiliki sistem rudal BUK, namun Khodakovsky tetap menyalahkan Pemerintah Ukraina sebagai penyebab jatuhnya MAS MH17. Khodakovsky berpendapat pesawat jenis Boeing 777-200 ER itu bisa dijadikan sasaran tembak secara tidak sengaja, karena militer Ukraina yang memprovokasi. 

"Mereka tahu sistem rudal BUK itu ada dan menuju ke Kota Snezhnoye. Mereka tahu BUK akan dikerahkan ke sana dan memprovokasi agar BUK digunakan," papar Khodakovsky. Kota Snezhnoye merupakan kota yang berjarak hanya 10 kilometer dari lokasi jatuhnya pesawat.

Cara memprovokasi yang digunakan oleh Pemerintah Ukraina, menurut Khodakovsky, yakni dengan memulai serangan udara ke target yang tidak mereka perlukan. 

"Padahal, mereka sudah tidak lagi menerbangan pesawat militer selama satu pekan. Dan hari itu, militer Ukraina terbang secara intensif dan tepat di saat penembakan, sebuah pesawat sipil melintas. Lalu mereka melakukan serangan udara," imbuh Khodakovsky. 

Pemerintah Ukraina, lanjut Khodakovsky, akan melakukan apapun untuk memastikan bahwa pesawat sipil itu yang menjadi sasaran tembak. 

Dalam wawancara itu, dia juga tidak membantah adanya kemungkinan Rusia yang memberikan sistem rudal BUK yang digunakan untuk menembak pesawat MH17. 

"Saya tidak bermaksud mengatakan Rusia memberikan ini atau tidak memberikannya sama sekali. Bisa saja mereka menawarkan BUK ini atas inisiatif warga lokal. Saya pribadi menginginkan BUK dan jika ada seseorang yang menawarkannya, saya tidak akan menolak," kata Khodakovsky. 

Namun, dia menegaskan, kelompoknya hanya memakai alutsista hanya untuk situasi yang mengancam. "Saya hanya akan menggunakannya dalam situasi di mana ada sebuah serangan udara dan posisi saya hanya ingin melindungi rakyat kami," kata dia. 

Dengan adanya pengakuan tersebut, justru membenarkan analisis intelijen AS sebelumnya. Juru bicara Pentagon, Eileen Lainez, mengatakan Rusia sudah sejak lama menyokong pemberian senjata dan ikut melatih anggota kelompok separatis Ukraina. 

Namun, dia membantah klaim Khodakovsky yang menyebut Pemerintah Ukraina yang patut disalahkan atas tragedi jatuhnya MH17. Menurut Lainez, apa yang dikatakan Khodakovsky, hanya ingin memperkeruh suasana. 

Read more...
Friday, 18 July 2014

Kapal Selam TYPE 209 ( Jerman )

0 komentar
Kalah perang memang berefek jelek bagi Jerman. Bahkan setelah 25 tahun PD II berlalu, bangsa aria tetap wajib tunduk pada peraturan yang dibuat sekutu. Mereka tidak di perbolehkan membangun kapal selam dengan bobot lebih dari 1000 ton . jelas aturan tadi bisa mematikan kreativitas. Tapi Tenang saja, masih ada jalan keluarnya. Buktinya biro desain kapal selam Jerman Barat, IKL (Ingenieurkontor lubeck) nekat melangsir type 209 yang berbobot lebih dari 1.000 ton pada era 70 an.
Nah, biar tak terjerat pada aturan sekutu maka kapal selam ini hanya di tujukan bagi pangsa pasar ekspor. Lebih dari 12 AL dunia (termasuk TNI AL) memakai varian type 209, cukuplah jadi tanda keandalan kapal selam ini.

Spesifikasi
Kru : 30-33 orang.
Bobot Selam : 1.440 ton
Bobot Permukaan : 1.320 ton
Panjang (P) : 61 Meter
Beam : 6,2 m
Drought : 5,5 meter
Mesin Empat Generator MTU, Sebuah Motor Elektrik Siemens, baling-baling tunggal
Kecepatan Selam Mks : 22 Knot
Kecepatan Permukaan Mks : 11 Knot
Persenjataan : Delapan Tabung Peluncur Terpedo Kaliber 21 Inci (533 mm)
Read more...
Thursday, 17 July 2014

Serangan Udara Hantam Ukraina Timur, 11 Tewas

0 komentar
SNIZNHE - Sebuah serangan udara menghantam sebuah apartemen di Ukraina timur dan menewaskan setidaknya 11 orang. Pemerintah Ukraina menuduh Rusia berada di balik serangan udara tersebut.

Melansir VOA, Rabu (16/7/2014), hingga saat ini, detail penembakan itu pun masih abu-abu. Separatis pro-Rusia yang menguasai beberapa wilayah di timur Ukraina sendiri menuduh militer Ukraina yang melakukan serangan tersebut.


“Ukraina tidak terlibat dalam penyerangan terbaru, tidak ada pesawat Ukraina yang memasuki wilayah tersebut, sejak Senin, lalu,” ungkap juru bicara militer Ukraina, Andriy Lysenko membantah tuduhan tersebut.

Sementara itu, pihak Rusia sendiri belum memberikan komentar apapun mengenai insiden terbaru di wilayah tetangga mereka tersebut. Ukraina sendiri terus menuduh Rusia masih melakukan operasi terselubung untuk membantu para separatis.

Ketegangan kedua negara semakin meninggi paska penembakan seoang warga Rusia di wilayah Donetsk yang sudah masuk ke wilayah Rusia oleh pasukan Ukraian akhir pekan lalu. Semenjak itu, Rusia dikabarkan mulai mengirimkan kembali pasukannya ke wilayah perbatasan.

“Sebelumnya, hal ini tak pernah terjadi di Ukraina, kami berada di ambang agresi militer dalam skala besar yang dilakukan oleh tetangga kami sendiri,” ungkap seorang pejabat militer Ukraina, Jenderal, Mykhaylo Koval merujuk pada mobilisasi pasukan Rusia di perbatasan.

Read more...
 
beritamiliterindonesia © 2014 | Designed By Blogger Templates