berita militer indonesia terbaru

Friday, 30 May 2014

Pesawat Tempur Yakovlev Yak-141 Freestyle

1 komentar
Yakovlev Yak-141 Freestyle adalah pesawat jet tempur berkecepatan supersonik yang memiliki kemampuan lepas-landas dan mendarat secara vertikal (VTOL: Vertical Take-Off and Landing). Jet tempur ini dirancang oleh perusahaan Yakovlev, Rusia yang waktu itu masih berbentuk Uni Soviet. Oleh beberapa kalangan, pesawat ini hanya disebut dengan nama Yak-41 saja. Pihak NATO menyebutnya dengan nama Freestyle dalam laporannya. 
Menjawab kebutuhan Angkatan Laut Uni Sovyet pada pesawat tempur yang secara komprehensif mampu diandalkan untuk misi pertahanan udara armada laut, perusahaan Yakovlev menawarkan desain Yak-41 kepada militer Soviet pada tahun 1975.
Dengan segera tawaran ini diterima tanpa melalui proses tender yang melibatkan perusahaan dirgantara Soviet / Rusia yang lain seperti Sukhoi dan Mikoyan. Dan Alexander Yakovlev Sergeyevich pun ditunjuk untuk memimpin proyek pengembangan jet tempur supersonik berteknologi VTOL ini.

Meskipun telah dibuat beberapa prototipe pesawat Yak-141 Freestyle dan telah berhasil menjalani uji coba penerbangan, namun akhirnya proyek pengembangan dan pembuatan jet tempur VTOL ini terpaksa dihentikan oleh pihak Soviet (Rusia) karena alasan tidak adanya anggaran.

Produsen : Yakovlev (Rusia)
Type : Jet tempur pertahanan udara armada laut
Penerbangan perdana : 9 Maret 1987
Proyek dan produksi secara resmi dibatalkan pada Agustus 1991

Spesifikasi Jet Tempur Yak-141 Freestyle :

Karakteristik Umum :

  • Crew: 1
  • Panjang: 18.36 m
  • Lebar Sayap: 10.105 m
  • Tinggi: 5.00 m
  • Luas Area Sayap: 31.7 m²
  • Berat Kosong: 11.650 kg
  • Berat Maksimum Lepas-Landas: 19.500 kg
  • Mesin Utama: 1 Unit MNPK Soyuz R-79V-300 lift/cruise turbofan
Kinerja :
  • Kecepatan Maksimum: 1.800 km/jam (1,118 mph, Mach 1.4+)
  • Jarak Jangkau: 2.100 km
  • Jangkauan Terjauh: 3.000 km
  • Service ceiling: 15.500 m
  • Daya panjat: 15.000 m/menit
Persenjataan :
  • Senapan: 1 Unit GSh-301 kaliber 30 mm dengan 120 putaran
  • Hardpoints: 4 dibawah sayap dan 1 dibawah body dengan total kapasitas persenjataan 2.600 kg
  • Missil: R-73 Archer, R-77 Adder atau R-27 Alamo
Wikipedia.org
Read more...
Wednesday, 28 May 2014

Pesawat Tempur F-117A Nighthawk

0 komentar
F-117A Nighthawk adalah pesawat serang darat siluman yang hanya dimiliki oleh Angkatan Udara Amerika Serikat. Pesawat ini adalah hasil dari program pesawat siluman Lockheed Have Blue, dan merupakan pesawat pertama yang dirancang khusus untuk menggunakan teknologi siluman. F-117A banyak mendapatkan publikasi pada masa Perang Teluk. Kini Angkatan Udara Amerika Serikat sudah tidak mengoperasikan lagi pesawat F-117, dikarenakan mulai dipakainya F-22 Raptor yang lebih efektif. F-117 mulai dipensiunkan secara bertahap dari Oktober 2006 sampai 2008, dan sudah tidak ada lagi pilot baru yang dilatih untuk menggunakan pesawat ini.


Penamaan huruf "F" pada pesawat ini secara resmi tidak pernah dijelaskan. Namun, diperkirakan penamaan ini menggunakan konvensi penamaan pesawat militer Angkatan Udara Amerika Serikat sebelum tahun 1962, misalnya seperti F-111. Pada pesawat militer Amerika Serikat setelah tahun 1962, penamaan "F" biasanya untuk pesawat tempur udara ke udara, "B" untuk pesawat pengebom, "A" untuk pesawat serang darat, dan "C" untuk pesawat kargo (contoh: F-15 Eagle, B-2 Spirit, A-6 Intruder, dan C-130 Hercules). Pesawat siluman ini merupakan pesawat serang darat, karena itulah huruf awal "F" dan penomorannya masih menjadi misteri.

Pada sebuah film dokumentasi yang mewawancarai seorang anggota senior tim pengembangan F-117, mengatakan bahwa pilot-pilot terbaik akan lebih tertarik untuk mencoba pesawat "F", dibandingkan pesawat "B" atau "A".

Spesifikasi Jet Tempur Siluman F-117A Nighthawk :

Produsen : Lockheed Martin
Type : Pesawat Pembom dan Serangan Darat (Stealth / Siluman)
Penerbangan Perdana : 18 Juni 1981
Tahun non-aktif operasional : 2008

Karakteristik umum

  • Kru: 1
  • Panjang: 65 ft 11 in
  • Lebar sayap: 43 ft 4 in
  • Tinggi: 12 ft 9.5 in
  • Luas sayap: 780 ft²
  • Bobot kosong: 29,500 lb
  • Bobot terisi: 52,500 lb
  • Mesin: 2 unit General Electric F404-F1D2 turbofans, 10,600 lbf masing-masing
Kinerja
  • Laju maksimum: Mach 0.92 (617 mph, 993 km/h)
  • Laju jelajah: Mach 0.92
  • Jarak jangkau: 930 NM
  • Batas tertinggi servis: 69,000 ft
  • Beban sayap: 65 lb/ft²
  • Dorongan/berat: 0.40
Persenjataan
  • BLU-109 bomb hardened penetrator
  • GBU-10 Paveway II laser-guided bomb
  • GBU-12 Paveway II laser-guided bomb
  • GBU-27 Paveway III laser-guided bomb
  • JDAM INS/GPS guided munition
Read more...
Tuesday, 27 May 2014

Pesawat tempur F-20 Tigershark (Hiu Macan)

0 komentar
Pesawat tempur F-20 Tigershark (Hiu Macan), adalah pesawat tempur hasil pengembangan dari F-5 Tiger II buatan Northrop Corp (kini Northrop Grumman), Amerika Serikat. Meski mengusung teknologi yang cukup maju untuk kebutuhan pesawat tempur abad ke-21 dan telah dipertontonkan kehebatannya dalam berbagai pameran di dunia termasuk pameran kedirgantaraan Farnborough di Inggris, pesawat ini dihentikan produksinya karena tidak ada satupun pesawatnya yang laku terjual, meski sebenarnya adalah ditujukan untuk menggantikan pesawat F-5 Tiger II yang dioperasikan oleh negara-negara dunia ketiga yang umumnya memiliki anggaran militer terbatas. Penyebabnya adalah kebijakan pemerintah Amerika Serikat sendiri yang memang tidak berminat mengoperasikan pesawat ini dalam jajaran armadanya, selain itu pemerintah Ronald Reagan sendiri tidak mengizinkan penjualan pesawat tersebut ke negara yang saat itu ditujukan sebagai pembeli potensial yakni India dan Taiwan, alasannya adalah pesawat itu terlalu bagus.


Dengan kemampuannya yang cukup modern, bila pembelinya Taiwan, akan membuat buruknya hubungan Amerika Serikat-RRC, sementara bila pembelinya adalah India, maka dikhawatirkan akan jatuhnya teknologi maju yang diterapkan pada pesawat tersebut ketangan Uni Soviet melalui jaringan spionasenya di India. Sementara Arab Saudi yang berminat membeli sejumlah 200 pesawat untuk meremajakan armadanya yang terdiri atas 200 pesawat F-5 Tiger II, mau membelinya jika pesawat itu juga masuk dalam jajaran operasional militer Amerika Serikat.

Pesawat tempur ini sebenarnya, seperti halnya ketika dipromosikan, adalah pesawat yang relatif murah dalam harga dan pengoperasiannya dibandingkan pesawat-pesawat tempur mutakhir lainnya seperti F-4 dan F-16 Fighting Falcon yang juga ditujukan pada negara-negara sahabat Amerika Serikat. Dengan biaya untuk pengadaan enam pesawat F-4 Phantom, dapat digunakan untuk mengadakan 14 pesawat (satu skadron) F-20 Tigershark. Disebutkan juga biaya terbangnya hanya kurang dari 1000 dolar AS perjam. Bandingkan dengan F-16 yang dua kali lipatnya, bahkan Tornado yang memakan lebih dari tiga kali lipatnya.

Pencerminan teknologi baru

Selain cukup murah dan mudah dalam perawatannya, F-20 juga memiliki waktu reaksi cukup cepat. Dalam tempo 2 menit 30 detik F-20 sudah berada 20 km dari pangkalannya dalam ketinggian 32000 feet dan mengunci pesawat musuh dalam radius 90 km dari pangkalannya. Sosoknya yang tidak jauh beda dengan F-5 Tiger II, memiliki kemampuan melesat dengan dua kali kecepatan suara (Mach-2), dilengkapi sistem avionik dan teknologi propulsi, sistem kendali yang cukup modern serta kemudi yang semua ditangani secara elektrik (fly-by-wire) yang diadopsi juga oleh F-16.

Data Teknis

  • Tipe
    Pesawat tempur dengan kursi tunggal dengan jenis penyerang taktis (tactical strike fighter), juga memiliki kemampuan untuk patroli udara (Combat Air Patrol) dengan radius 300 mil dari pangkalannya serta dapat dilengkapi tiga tangki bahan bakar 330 galon yang dapat dibuang. Dengan adanya tangki tambahan tersebut, durasi terbang F-20 bertambah lebih dari 2 jam. Serta dapat digunakan untuk pendukung tembakan di udara (Close Air Support).
  • Mesin
    Menggunakan satu mesin General Electric F-404 dengan diameter 88 cm dan berat 907 kg, yang juga diguanakan pada F/A 18 Hornet. Mesin ini berdaya dorong 60 persen lebih besar dari kedua mesin J-85-GE-21 yang digunakan F-5 Tiger II dengan daya dorong 10.000 lbs. Mesin ini dikenal irit bahan bakar dengan konsumsi 60% dari pemakaian bahan bakar yang digunakan oleh pesawat tempur berkecepatan Mach-2. Dengan bahan bakar yang sama, pesawat F-20 dapat melakukan dua sortie penerbangan dibandingkan dengan pesawat tempur yang dipakai dalam armada udara AS. Bila dibandingkan dengan mesin GE-79 yang dioperasikan F-14 Tomcat, maka mesin ini memiliki 19.000 bagian lebih sedikit , kompresor dan turbin yang kecil dibandingkan mesin pertama. Mesin ini tidak mengalami tanda-tanda stall bila dioperasikan dan telah diujicoba oleh Angkatan Laut AS, termasuk ujicoba dalam menghadapi tekanan atau gaya gravitasi. Bisa dikatakan mesin F-20 sangat ringan, kuat dan berdaya dorong tinggi dan mudah dirawat.
  • Radar dan Peralatan Avionik
    Tidak disebutkan radar jenis apa yang diaplikasikan dalam F-20 Tigershark. Disebutkan bahwa radar yang diaplikasikan memiliki kemampuan untuk mengenali segala sasaran, kemampuan melihat ke atas (look-up) dan kebawah (look-down) , mengontrol manuver dan menetukan jarak pertempuran dan berkemampuan segala cuaca serta pembacaan peta yang cukup baik. Peralatan lain yang digunakan pada dasarnya hampir sama dengan yang diaplikasikan oleh F-5 Tiger II, juga dilengkapi dengan INS (Inertial Navigation System) ditambah dengan HUD (Head Up Display).
  • Persenjataan
    F-20 dilengkapi dengan dua kanon M-39 kaliber 20 mm dengan kecepatan tembak 1400 peluru/menit dengan cadangan 450 ikat amunisi. Selain itu dapat juga dipersenjatai dengan kanon Gatling GAU-8 Avenger seperti yang diaplikasikan pada A-10 Thunderbolt II yang teruji dalam perang dapat menghancurkan tank. F-20 dilengkapi dengan rudal standar untuk pertempuran udara ke udara (Air to Air doghfight) AIM-9 Sidewinder serta rudal jarak jauh BVR (beyond visual range) AM-120 AMRAAM, rudal udara ke darat (Air Ground Missiles) AGM-65 maverick sebanyak empat rudal, serta berbagai macam bom standar seperti Bom Mk-82, smart bomb (bom pintar) serta GEPOD 30 mm (pod tambahan canon 30 mm diluar pesawat). Sementara untuk konfigurasi bantuan udara (Close Air Support) F-20 dapat membawa tujuh bom Mk-82, dua sidewinder dan dua tangki bahan bakar plus persenjataan lainnya.
Nasib malang

Dengan kemampuan, ketangguhan dan mudahnya dalam operasional dan perawatan, F-20 Tigershark sebenarnya cukup mampu dioperasikan oleh negara negara maju lebih-lebih negara-negara dunia ketiga yang memiliki anggaran militer khususnya angkatan udara terbatas. Namun tidak adanya dukungan dari Pemerintah Amerika Serikat, dengan sendirinya negara-negara dunia ketiga enggan untuk mengoperasikannya. Hal yang sering dialami oleh produsen persenjataan negara-negara Barat yang sering bertolak belakang dengan kebijakan politik pemerintahannya serta persaingan tidak sehat antar produsen senjata, sehingga hal yang ironis seperti persenjataan yang murah, mudah dan modern sering bernasib hanya sampai di tingkat ujicoba dan prototype saja.

Spesifikasi Jet Tempur F-20 Tigershark

Karakteristik Umum :
  • Kru: 1 pilot
  • Panjang: 47 ft 4 in
  • Lebar sayap: 27 ft 11.9 in / 8.53 m; with wingtip missiles
  • Tinggi: 13 ft 10 in
  • Luas sayap: 200 ft²
  • Bobot kosong: 13,150 lb
  • Bobot terisi: 15,480 lb
  • Bobot maksimum lepas landas: 27,500 lb
  • Mesin: 1 unit General Electric F404-GE-100 turbofan, 17,000 lbf
Kinerja :
  • Laju maksimum: Mach 2+
  • Radius tempur: 300 nmi ; for hi-lo-hi mission with 2 × 330 US gal (1,250 L) drop tanks
  • Jarak jangkau ferri: 1,490 nmi ; with 3 × 330 US gal (1,250 L) drop tanks
  • Batas tertinggi servis: 55,000 ft
  • Laju panjat: 52,800 ft/min
  • Beban sayap: 81.0 lb/ft²
  • Dorongan/berat: 1.1
Persenjataan :
  • Cannon: 2 Unit Pontiac M39A2 kaliber 20 mm (0.79 inchi), 280 putaran
  • Hardpoint: 5 hardpoint eksternal dengan kapasitas 3.600 kg bom, missil, roket
  • Roket: 2 Unit CRV7 atau 2 Unit LAU-10 dengan 4 Unit Zuni 5 inchi (127 mm) atau 2 Unit Matra
  • roket pod dengan 18 Unit SNEB 68 mm
  • Rudal: 2 Unit AIM-9 Sidewinders, AGM-65 Maverick udara-ke-permukaan
  • Bom: CBU-24/49/52/58, M129
Avionik :
  • General Electric AN/APG-67
Read more...
Saturday, 24 May 2014

Pesawat Tempur Sukhoi Su-30 Flanker

0 komentar
Pemerintah Republik Indonesia baru saja menerima kedatangan 2 unit jet tempur Sukhoi Su-30 dari 6 pesawat sejenis yang sudah dipesan. Pesawat ini adalah pesawat tempur yang dikembangkan oleh Sukhoi Rusia pada tahun 1996, dan masuk dalam jenis pesawat tempur multi-peran, yang efektif dipakai sebagai pesawat serang darat. Model Sukhoi SU-30 bisa dibandingkan dengan F/A-18E/F Super Hornet and F-15 Eagle, buatan Amerika Serikat.

Sukhoi Su-30 adalah pengembangan dari Su-27UB,
dan memiliki beberapa varian. Seri Su-30K dan Su-30MK telah sukses secara komersial. Varian-varian ini diproduksi oleh KNAAPO dan Irkut, yang merupakan anak perusahaan dari grup Sukhoi. KNAAPO memproduksi Su-30MKK dan Su-30MK2, yang dirancang dan dijual kepada Tiongkok. Su-30 paling mutakhir adalah seri Su-30MK buatan Irkut. Antara lain Su-30MKI, yang merupakan pesawat yang dikembangkan khusus untuk Angkatan Udara India, serta MKM untuk Malaysia dan MKA untuk Aljazair.

Sukhoi Su-30 hanya bisa dinaiki oleh dua kru. Dengan panjang 21.935 m, lebar sayap: 14.7 m, tinggi: 6.36 m, luas sayap: 62.0 m², pesawat ini cukup handal untuk terbang jarak jauh. Bobot kosong: 17,700 kg dan bobot terisi: 24,900 kg. Pesawat ini bobot maksimum lepas landas: 34,500 kg. Menggunakan mesin: 2× AL-31FL low-bypass turbofan, pesawat ini laju maksimumnya mencapai Mach 2.0 (2,120 km/h, 1,320 mph) dengan jarak jangkau: 3,000 km at altitude.

Spesifikasi Jet Tempur Sukhoi Su-30 Flanker-C :

  • Kru : 2
  • Panjang : 21,935 m
  • Lebar sayap : 14,7 m
  • Tinggi : 6,36 m
  • Luas sayap : 62,0 m²
  • Bobot kosong : 17.700 kg
  • Bobot terisi : 24.900 kg
  • Bobot maksimum lepas landas : 34.500 kg
  • Mesin : 2unit AL-31FL low-bypass turbofans
    • Dorongan kering : 7.600 kgf masing-masing
    • Dorongan dengan pembakar lanjut : 12.500 kgf masing-masing
Kinerja
  • Kecepatan maksimum : Mach 2.0 (2.120 km/jam, 1,320 mph)
  • Jarak jangkau : 3.000 km pada ketinggian maksimal penerbangan
  • Ketinggian maksimum penerbangan : 17.300 m
  • Laju panjat : 230 m/detik
  • Beban sayap : 401 kg/m²
  • Dorongan/berat : 1.0
Persenjataan
  • Cannon : 1 unit GSh-30-1 kaliber 30 mm, 150 putaran
  • Rudal Udara-ke-Udara : 6 unit R-27ER1 (AA-10C), 2 unit R-27ET1 (AA-10D), 6 unit R-73E (AA-11), 6 unit R-77 RVV-AE(AA-12)
  • Rudal Udara-ke-Permukaan : 6 unit Kh-31P/Kh-31A rudal anti radar, 6 unit Kh-29T/L rudal berpandu laser, 2 unit Kh-59ME
  • Bom : 6 unit KAB 500KR, 3 unit KAB-1500KR, 8 unit FAB-500T, 28 unit OFAB-250-270
www.republika.co.id, wikipedia.org
Read more...
Thursday, 22 May 2014

F-22 Raptor, Jet Tempur Siluman Buatan AS

0 komentar
Jet tempur berteknologi stealth (anti radar / pelacakan) F/A-22 atau yang lebih dikenal dengan nama F-22 Raptor dikembangkan untuk menggantikan jet tempur F-15 dan generasi jet tempur lainnya milik Angkatan Udara AS (USAF). F-22 Raptor dikembangkan bersamaan dengan F-23 yang merupakan saingannya dan juga salah satu dari jenis pesawat yang dioptimalkan untuk jet tempur siluman. Keduanya pun dirancang memiliki kemampuan supercruise yaitu mampu melesat dengan kecepatan supersonic tanpa afterburner. F/A-22 memiliki penampilan yang relatif konvensional dengan ekor kembar bersisi datar. Mesin pesawat memiliki nozzle vektor pendorong dua dimensi. Untuk lebih memaksimalkan teknologi stealth yang diterapkan, persenjataan disimpan di dalam tubuh pesawat atau lebih menitik beratkan pada persenjataan internal.


F-22 Raptor pertama kali dioperasikan pada bulan Desember 2005. Awalnya untuk digunakan oleh Angkatan Laut AS guna menggantikan jet tempur F-14. F-22 memang pantas disebut sebagai jet tempur terbaik di dunia karena dilengkapi dengan sensor yang prima sehingga pilot bisa memonitor kondisi pesawat dan keadaan sekitar penerbangan dengan baik. Sistem persenjataan yang melengkapinya bisa memastikan bahwa jet siluman ini yang memiliki kesempatan pertama untuk menyerang dibandingkan dengan lawan.

Sensor pada F-22 memungkinkan pilot untuk melacak, mengindentifikasi, dan menembak target sebelum kehadirannya terdeteksi oleh lawan. Teknologi avionik yang sudah dikembangkan memungkinkan sistem sensor pada F-22 dapat mengumpulkan, mengintegrasikan, dan menampilkan informasi penting bagi pilot guna mempermudah operasi tempurnya.

Peningkatan kemampuan siluman (stealth) membuat jet tempur ini secara signifikan menunjukkan kemampuannya dalam mengurangi ancaman serangan berupa tembakan missil udara ke udara atau permukaan ke udara. Kemampuan supercruise (melaju dengan kecepatan supersonik tanpa afterburner) juga bisa memberikan efek kejut yang memberikan keuntungan taktis.

Kemampuan supercruise yang dimiliki F-22 Raptor membuat pesawat ini memiliki daya jelajah yang lebih jauh dibandingkan jet tempur berkecepatan supersonik lainnya. Sedangkan pada jet tempur lainnya harus menggunakan afterburner untuk mencapai kecepatan supersonik sehingga cenderung membuat pemakaian bahan bakar menjadi lebih boros dengan konskwensi jarak jelajah terbang menjadi berkurang.

Selain itu, F-22 juga terbukti memiliki kemampuan manuver yang sempurna. Pada kecepatan tinggi pesawat ini masih tetap bisa melakukan manuver taktis yang prima. Kemampuan ini didukung oleh desain aerodinamis yang maju sehingga bisa mengungguli pesawat musuh maupun kondisi cuaca pada penerbangan.

Sejarah

Program ATF (Advanced Technology Fighter) yang melahirkan F-22 Raptor dimulai pada bulan September 1983. Saat itu kontrak pengembangan desain jet tempur siluman ini diberikan kepada 7 perusahaan. Pada oktober 1986, kontrak pengembangan diberikan kepada dua konsorsium, salah satunya terdiri dari perusahaan Lockheed (kontraktor utama), Boeing, dan General Dynamics. Sementara konsorsium yang lain terdiri dari perusahaan Northrop (kontraktor utama) dan McDonnel Douglas.

Desain pesawat yang dibuat oleh Northrop dan McDonnel Douglas, sebuah jet tempur siluman yang diberi nama YF-23A, banyak kalangan menjulukinya Black Widow II. Black Widow II diterbangkan pertama kali pada 27 Agustus 1990. Kemudian menyusul desain pesawat hasil rancangan Lockheed, Boeing, dan General Dynamics yang diberi nama YF-22A dengan julukan yang terkenal Lightning II dan diterbangkan perdana pada tanggal 29 September 1990. Dan pada bulan April 1991, desain jet tempur YF-22A yang terpilih untuk dikembangkan lebih lanjut.

Setelah terjadi pemangkasan anggaran untuk proyek ini, membuat jet tempur F-22A buatan Lockheed dan Boeing (General Dynamics telah menjual divisi tempurnya kepada Lockheed sejak Desember 1992) menjadi lambat diproduksi. Hingga akhirnya dapat dioperasikan perdana pada tahun 2005. Rencana awal akan diproduksi hingga 648 unit F-22 Raptor, tapi berkenaan dengan pemotongan anggaran yang sudah terjadi, jet tempur siluman ini hanya diproduksi sebanyak 339 unit.

Ada laporan yang berbeda mengenai pemberian nama resmi untuk jet tempur F-22A. Untuk sementara pihak Pentagon menyebutnya dengan nama "Superstar". Tapi beberapa kalangan di media bahkan sudah memberinya nama "Rapier". Sementara itu, Chris Ridlon mewakili USAF (Angkatan Udara AS) lebih memilih nama yang disebutkan oleh pabrikan Lockheed, Lightning II. Dan akhirnya kita semua tahu bahwa jet tempur siluman super canggih ini bernama Raptor…

Spesifikasi Jet Tempur Siluman F-22 Raptor


SPESIFIKASI UMUM
PembuatLockheed Martin dan Boeing
Jumlah Crew1 Orang
Harga per UnitUS$.360 juta
DIMENSI
Lebar Sayap13,56 meter
Panjang Keseluruhan18,92 meter
Tinggi Keseluruhan5,08 meter
Luas Sayap78 meter²
TENAGA PENGGERAK
Mesin Pendorong2 Unit Pratt & Whitney F119-PW-100
Rasio Bypas0.2:1
Daya Menengah116 kN
Daya Tambahan155 kN
BERAT
Operasional Kosong14.375 kg
Bahan Bakar Internal11.400 kg
Lepas Landas Normal27.200 kg
Maksimum Lepas Landas36.288 kg
Daya Angkat Sayap470 kg/m²
KINERJA
Kecepatan MaksimumMach 1,9 (beberapa sumber menyebut Mach 2,4)
Kecepatan SuprcruiseMach 1,6
Radius Tempur1.400 kilometer
Jarak Jelajah Terbang3.200 kilometer
Ceiling18.000 meter
Dorongan / Berat1.3 ~ 1.4
Gaya Gravitasi Maksimum9,5 g
PERSENJATAAN
Senapan Mesin1 × M61A2 Vulcan 20 mm Gatling dengan 480 putaran
Misil Udara ke Udara6 Unit AIM-120 AMRAAM, 2 Unit AIM-9 Sidewinder
Misil Udara ke Permukaan2 Unit 1,000 lb JDAM atau 2 Unit 1.000 £ JDAM, 2 Unit Wind Corrected Munitions Dispensers (WCMDs) atau 8 Unit 250 lb GBU-39 Small Diameter Bombs
Keterangan TambahanDiperkirakan kabin persenjataan internal dapat mengangkut sekitar 907 kg bom atau rudal. Empat cantelan yang terpasang dibawah sayap pesawat dapat digunakan untuk membawa senjata atau tanki bahan bakar tambahan yang masing-masing memiliki kapasitas 2.267 kg, tapi dengan mengorbankan kemampuan silumannya sebab benda-benda itu tidak anti radar / deteksi.

fighter-planes.com, defenseindustrydaily.com
Read more...
Wednesday, 21 May 2014

AS Kirim Kapal Perang Lagi ke Laut Hitam

0 komentar
Angkatan Laut Amerika Serikat mengirim kapal jelajah berpemandu rudal ke Laut Hitam, kata Pentagon Selasa, tawaran terakhir Washington untuk meyakinkan sekutunya yang khawatir atas intervensi Rusia di Ukraina.

"Saya dapat mengkonfirmasikan bahwa Vella Gulf, sebuah kapal jelajah Angkatan Laut, akan memasuki Laut Hitam mungkin akhir pekan ini," kata Juru Bicara Pentagon, Laksamana Muda John Kirby, kepada wartawan.

Vella Gulf akan tiba di Laut Hitam setelah keberangkatan baru-baru ini kapal fregat USS Taylor, meninggalkan daerah itu pada 12 Mei.


Sejak krisis dimulai di Ukraina pada Maret, Amerika Serikat telah mengerahkan pasukan ke negara-negara Eropa Timur untuk pelatihan militer bersama dan mengirimkan kapal-kapal ke Laut Hitam untuk latihan dengan negara-negara NATO di kawasan itu.

Tetapi Konvensi Montreux 1936 mengatur larangan negara-negara di luar Laut Hitam untuk memasukkan kapal-kapal perangnya di perairan strategis lebih dari 21 hari.

Pentagon, yang terpanggil untuk meredakan kekhawatiran sekutu yang berbatasan dengan Rusia, telah mengatakan akan menjaga penyebaran reguler pasukannya ke negara-negara anggota NATO di Eropa Timur sampai akhir tahun ini.

Semakin tinggi kehadiran militer AS juga akan "mencakup angkatan laut dan kehadiran di dari luar Laut Hitam," menurut Kirby.

Dia juga mengatakan tidak ada tanda-tanda penarikan pasukan Rusia dari perbatasan Ukraina, meskipun ada pengumuman penarikan dari Moskow.

"Mereka masih dalam jumlah puluhan ribu," kata Kirby.

"Dan kami belum melihat kegiatan penarikan," katanya.

Sebelumnya, Ukraina mengatakan pasukan Rusia telah bergerak jauh dari perbatasan, tetapi tidak mengkonfirmasikan penarikan penuh sebagaimana dituntut oleh Barat.

Layanan perbatasan Ukraina mengeluarkan pengumuman mengejutkan Selasa pagi, bahwa tidak satupun ada dari 40.000 tentara Rusia yang sekarang ditempatkan dalam 10 kilometer (enam mil) dari negara itu. (ant/mar)

Read more...
Tuesday, 20 May 2014

Pesawat Tempur F-16 Fighting Falcon

0 komentar
F-16 Fighting Falcon adalah jet tempur multi-peran yang dikembangkan oleh General Dynamics (lalu di akuisisi oleh Lockheed Martin), di Amerika Serikat. Pesawat ini awalnya dirancang sebagai pesawat tempur ringan, dan akhirnya ber-evolusi menjadi pesawat tempur multi-peran yang sangat populer. Kemampuan F-16 untuk bisa dipakai untuk segala macam misi inilah yang membuatnya sangat sukses di pasar ekspor, dan dipakai oleh 24 negara selain Amerika Serikat. Pesawat ini sangat populer di mata international dan telah digunakan oleh 25 angkatan udara. F-16 merupakan proyek pesawat tempur Barat yang paling besar dan signifikan, dengan sekitar 4000 F-16 sudah di produksi sejak 1976. Pesawat ini sudah tidak diproduksi untuk Angkatan Udara Amerika Serikat, tapi masih diproduksi untuk ekspor.


F-16 dikenal memiliki kemampuan tempur di udara yang sangat baik, dengan inovasi seperti tutup kokpit tanpa bingkai yang memperjelas penglihatan, gagang pengendali samping untuk memudahkan kontrol pada kecepatan tinggi, dan kursi kokpit yang dirancang untuk mengurangi efek g-force pada pilot. Pesawat ini juga merupakan pesawat tempur pertama yang dibuat untu menahan belokan pada percepatan 9g.

Pada tahun 1993, General Dynamics menjual bisnis produksi pesawat mereka kepada Lockheed Corporation, yang kemudian menjadi bagian dari Lockheed Martin setelah merger dengan Martin Marietta pada tahun 1995. Pada tahun 1960-an, Angkatan Udara dan Angkatan Laut Amerika Serikat menyimpulkan bahwa masa depan pertempuran udara akan ditentukan oleh peluru kendali yang semakin modern. Dan bahwa pesawat tempur masa depan akan digunakan untuk mengejaran jarak jauh, berkecepatan tinggi, dan menggunakan sistem radar yang sangat kuat untuk mendeteksi musuh dari kejauhan. Ini membuat desain pesawat tempur masa ini lebih seperti interseptor daripada pesawat tempur klasik. Pada saat itu, Amerika Serikat menganggap pesawat F-111 (yang pada saat itu masih dalam tahap pengembangan) dan F-4 Phantom akan cukup untuk kebutuhan pesawat tempur jarak jauh dan menengah, dan didukung oleh pesawat jarak dekat bermesin tunggal seperti F-100 Super Sabre, F-104 Starfighter, dan F-8 Crusader.

Pada Perang Vietnam, Amerika Serikat menyadari bahwa masih banyak kelemahan pada pesawat-pesawat mereka. Peluru kendali udara ke udara pada masa itu masih memiliki banyak masalah, dan pemakaiannya juga dibatasi oleh aturan-aturan tertentu. Selain itu, pertempuran di udara lebih banyak berbentuk pertempuran jarak dekat dimana kelincahan di udara dan senjata jarak dekat sangat diperlukan.

Kolonel John Boyd mengembangkan teori tentang perawatan energi pada pertempuran pesawat tempur, yang bergantung pada sayap yang besar untuk bisa melakukan manuver udara yang baik. Sayap yang lebih besar akan menghasilkan gesekan yang lebih besar saat terbang, dan biasanya menghasilkan jarak jangkau yang lebih sedikit dan kecepatan maksimum yang lebih kecil. Boyd menganggap pengorbanan jarak dan kecepatan perlu untuk menghasilkan pesawat yang bisa bermanuver dengan baik. Pada saat yang sama, pengembangan F-111 menemui banyak masalah, yang mengakibatkan pembatalannya, dan munculnya desain baru, yaitu F-14 Tomcat. Dorongan Boyd tentang pentingnya pesawat yang lincah, gagalnya program F-111, dan munculnya informasi tentang MiG-25 yang saat itu kemampuannya terlalu dibesar-besarkan membuat Angkatan Udara Amerika Serikat memulai perancangan pesawat mereka sendiri, yang akhirnya menghasilkan F-15 Eagle.

Pada saat pengembangannya, F-15 berevolusi menjadi besar dan berat seperti F-111. Ini membuat Boyd frustrasi dan ia pun meyakinkan beberapa petinggi Angkatan Udara lain bahwa F-15 membutuhkan dukungan dari pesawat tempur yang lebih ringan. Grup petinggi Angkatan Udara ini menyebut diri mereka "fighter mafia", dan mereka bersikeras akan dibutuhkannya program Pesawat Tempur Ringan (Light Weight Fighter, LWF).

Pada Mei 1971, Kongres Amerika Serikat mengeluarkan laporan yang mengkritik tajam program F-14 dan F-15. Kongres mengiyakan pendanaan untuk program LWF sebesar US$50 juta, dengan tambahan $12 juta pada tahun berikutnya. Beberapa perusahaan memberikan proposal, tetapi hanya General Dynamics dan Northrop yang sebelumnya sudah memulai perancangan dipilih untuk memproduksi prototip. Pesawat mereka mulai diuji pada tahun 1974. Program LWF awalnya merupakan program evaluasi tanpa direncanakan pembelian versi produksinya, tetapi akhirnya program ini diubah namanya menjadi Air Combat Fighter, dan Angkatan Udara AS mengumumkan rencana untuk membeli 650 produk ACF. Pada tanggal 13 Januari 1975 diumumkan bahwa YF-16 General Dynamics mengalahkan saingannya, YF-17.

Spesifikasi Pesawat Tempur F-16 Fighting Falcon

Karakteristik Umum :

  • Kru: 1
  • Panjang: 49 ft 5 in
  • Lebar sayap: 32 ft 8 in
  • Tinggi: 16 ft
  • Luas sayap: 300 ft²
  • Airfoil: NACA 64A204 root and tip
  • Bobot kosong: 18,238 lb
  • Bobot terisi: 26,463 lb
  • Bobot maksimum lepas landas: 42,300 lb
  • Mesin: 1 unit Pratt & Whitney F100-PW-220 afterburning turbofan
  • Alternate powerplant: 1× General Electric F110-GE-100 afterburning turbofan
Kinerja :
  • Laju maksimum: >Mach 2 (1,320 mph, 2,124 km/h) at altitude
  • Radius tempur: 340 mi on a hi-lo-hi mission with six 1,000 lb (450 kg) bombs
  • Jarak jangkau ferri: >3,200 mi
  • Batas tertinggi servis: >55,000 ft
  • Laju panjat: 50,000 ft/min
  • Beban sayap: 88.2 lb/ft²
  • Dorongan/berat: F100 0.898; F110 1.095
Persenjataan :
  • Senjata api: 1 unit M61 Vulcan gatling gun kaliber 20 mm (0.787 in), 511 putaran
  • Roket: 2¾ in (70 mm) CRV7
  • Rudal: Air-to-air missiles: 6× AIM-9 Sidewinder, 6× AIM-120 AMRAAM, 6× Python-4. Air-to-ground missiles: 6× AGM-65 Maverick, 4× AGM-88 HARM, 4× AGM-119 Penguin
  • Bom: 2× CBU-87 cluster, 2× CBU-89 gator mine, 2× CBU-97, 4× GBU-10 Paveway, 6× GBU-12 Paveway II, 6× Paveway-series laser-guided bombs, 4× JDAM, 4× Mk 80 series, B61 nuclear bomb
wikipedia.org
Read more...
 
beritamiliterindonesia © 2014 | Designed By Blogger Templates