berita militer indonesia terbaru

Wednesday, 5 March 2014

Militer Rusia Jepit Ukraina dari Segala Arah

0 komentar

Meski perang belum tentu terjadi, kini militer Rusia sudah melakukan manuver untuk menjepit Ukraina dari segala penjuru, baik di darat maupun di laut.

Di sebelah timur laut Ukraina, terdapat distrik militer barat Rusia yang memiliki 20 brigade infantri, yang tiap brigadenya diperkuat hampir 6.000 personel. Dengan demikian, secara total di wilayah ini Rusia memiliki hampir 120.000 personel angkatan darat.

Selain itu, distrik barat militer Rusia memiliki satu divisi tank, 20 skuadron udara, dan enam skuadron helikopter tempur dengan total 400 pesawat udara.

Di sebelah tenggara Ukraina, terdapat distrik militer selatan Rusia dengan kekuatan juga 20 brigade yang diperkuat kendaraan tempur dan kesatuan pasukan khusus. Distrik militer ini juga memiliki 18 skuadron udara, lebih dari 300 pesawat tempur, dan lima skuadron helikopter tempur.

Satu keuntungan besar Rusia lainnya adalah armada Laut Hitam-nya berpangkalan di Sevastopol, yang secara geografis kini menjadi wilayah Ukraina.

Di Sevastopol, Rusia memiliki lima kapal perang dan sejumlah kapal selam. Selain itu, Rusia memiliki tiga brigade infantri di Sevastopol, dengan maksimal 25.000 personel di Krimea berdasarkan perjanjian bilateral. Bahkan, akhir pekan ini kemungkinan besar Rusia masih akan mengirim 6.000 personel militer lagi.

Dengan kekuatan militer yang dahsyat itu, hanya akan dihadapi oleh 130.000 personel angkatan darat Ukraina yang diperkuat dua brigade tank dan sekitar 200 pesawat tempur.

Sedangkan di laut, kekuatan Ukraina jauh lebih kecil. Di Sevastopol, Ukraina hanya memiliki 14.500 personel infantri, 10 kapal perang, satu kapal selam, serta kapal-kapal kecil milik pasukan penjaga pantai yang berada di kota pelabuhan Kerch.

Saat ini, pasukan Rusia diduga sudah bergerak untuk mengamankan bandara Simferopol dan Kacah. Sementara unit-unit angkatan laut Rusia sudah mengepung pasukan Ukraina di Perevalnoye, Feodisia, Balaklava, dan Sevastopol

Read more...

Cengkeram Crimea, Rusia Turunkan 16.000 Pasukan

0 komentar


 Rusia semakin mencengkeram Crimea dengan menurunkan 16.000 pasukan ke wilayah otonomi Ukraina tersebut. Pasukan Rusia disebut melakukan provokasi untuk memicu perlawanan dari tentara Ukraina.

Hal ini disampaikan perwakilan tetap Ukraina dalam suratnya ke PBB, Senin 3 Maret 2014, diberitakan Fox News. Dalam surat tersebut, Rusia dikatakan semakin memperkuat posisinya di Crimea dengan menambah pasukan.

"Sekitar 16.000 pasukan Rusia diturunkan ke Crimea dengan kapal-kapal militer, helikopter, pesawat kargo dari wilayah tetangga Federasi Rusia," tulis surat tersebut.

"Pasukan Rusia terus mencoba untuk menguasai, memblokir dan mengendalikan objek pemerintah dan militer Ukraina di Crimea, parlemen Crimea, bandara militer dan sipil, seluruh sistem komunikasi, stasiun radio, layanan bea cukai, pangkalan militer dan penjaga pantai, serta markas angkatan laut Ukraina di Crimea," lanjut surat tersebut.

Dalam surat juga dikatakan, tentara Rusia menggunakan granat kejut terhadap tentara Ukraina. Selain itu, Rusia juga memblokade kapal Ukraina agar tidak bisa masuk ke laut Sevastopol. Jet Rusia juga dua kali telah melanggar wilayah udara Ukraina. Pangkalan udara Ukraina di Kerch juga sudah terkepung.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Ukraina, Maksim Prauta, mengatakan empat kapal perang Rusia memblokir akses masuk kapal perang anti-kapal selam Ukraina Ternopil dan kapal komando Slavutych ke pelabuhan Sevastopol.

Menghadapi ancaman Rusia, pasukan Ukraina dilaporkan masih terus bertahan dan berusaha melindungi diri mereka. "Pasukan Ukraina melindungi para staf, unit militer dan pangkalan, dan mereka tidak merespon provokasi yang terjadi beberapa hari terakhir," tulis surat tersebut.

Kisruh politik di Ukraina juga menyebabkan warga Krimea yang mayoritas keturunan Rusia terpecah belah. Pejabat pro-Rusia di Crimea, diberitakan Reuters yang mengutip mantan anggota parlemen Rusia, memotong aliran air dan listrik ke pangkalan militer Ukraina yang dikepung Rusia pada Senin malam.

Walaupun masih mengepung pangkalan militer, namun pasukan rusia belum mengambil alih fasilitas tersebut. Mereka memberikan ultimatum pasukan Ukraina untuk hengkang dari Crimea hingga tenggat waktu Selasa waktu setempat.

Perdana Menteri Ukraina Arseniy Yatsenyuk menegaskan bahwa Crimea masih bagian dari Ukraina, walaupun ada ribuan tentara rusia di sana. "Setiap upaya Rusia merebut Crimea tidak akan berhasil. Beri kami sedikit waktu. Untuk saat ini, tidak ada opsi militer ditawarkan," kata dia. (umi)

Read more...
Tuesday, 4 March 2014

Beijing Bimbang antara Dukung Rusia atau Tentang Invasi Militer

0 komentar

China yang selama ini konsisten menentang campur tangan dalam urusan internal negara-negara lain sedang bimbang antara mendukung Rusia atau menentang Rusia. Seorang profesor hubungan internasional di Universitas Peking, Niu Juni mengatakan China ingin mempertahankan hubungan dengan Rusia, namun memiliki keprihatinan yang kuat tentang intervensi asing.

Posisi China memang tidak mudah mengingat Moskow selalu menekankan bahwa mereka memiliki sekutu internasional utama terkait intervensi militer di Ukraina dan Beijing sering juga berada di posisi melawan kekuatan Barat tentang isu-isu pelik, seperti konflik berkepanjangan di Suriah.

Namun para analis mengatakan China kini terpecah antara ingin mendukung Rusia dan menjaga oposisi lama terhadap intervensi asing, terutama mengingat isu-isu separatis sendiri juga merongrong di barat Xinjiang .

Ketika ditanya terkait Ukraina saat konferensi pers rutin, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Qin Gang memberikan tanggapan kebimbangan tersebut.

"China selalu menjunjung tinggi prinsip-prinsip diplomasi dan norma-norma dasar hubungan internasional," katanya.

"Pada saat yang sama kami juga mempertimbangkan sejarah dan kompleksitas isu Ukraina. Bisa dikatakan bahwa posisi China adalah untuk mempertahankan kedua prinsip dan di sisi lain juga berusaha untuk bersikap realistis."

Qin juga menyebut pernyataannya yang diposting di situs kementerian itu sehari sebelumnya yang mengatakan bahwa China di satu sisi telah lama mempertahankan prinsip noninterference dalam urusan internal (dari negara lain) dan menghormati kemerdekaan, kedaulatan dan integritas teritorial Ukraina.

Read more...
Monday, 3 March 2014

Rusia tempatkan armada perang di Krimea

1 komentar
Tiga kapal perang Rusia hari ini berlabuh menuju Negara Bagian Krimea di semenanjung Laut Hitam perbatasan Ukraina dan Rusia setelah parlemen Negeri Beruang Merah setuju mengirimkan angkatan bersenjata ke negara itu. Tindakan ini mendapat kecaman barat.
Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev mengatakan lewat akun jejaring sosial miliknya pemimpin Ukraina saat ini merebut kekuasaan secara tidak sah. Medvedev juga meramalkan pemerintahan mereka bakal berakhir dengan revolusi dan pertumpahan darah.

Surat kabar the Huffington Post melaporkan, Rabu (3/3), Medvedev menyerukan Presiden Viktor Yanukovych tetaplah pemimpin sah Ukraina menurut konstitusi. "Jika dia bersalah gunakan prosedur penangkapan yang benar dan mengadilinya," ujar Medvedev sembari menambahkan pemerintah Ukraina sementara terlalu pro barat.

Yanukovych kini melarikan diri ke Rusia telah muncul pada pekan lalu dan mengatakan kabur sebab dia yakin ada ekstremis mengancam dirinya dan keluarga dia. 

Sementara Presiden Rusia Vladimir Putin memperoleh persetujuan parlemen Kremlin agar mengirimkan militer ke Ukraina demi menyelamatkan warga Negeri Beruang Merah tinggal di wilayah itu.

Pernyataan Rusia ini meningkatkan ketegangan antara barat dan timur. Ukraina pun menyiagakan tentaranya namun dua tentara ini tidak berkonfrontasi. Militer Ukraina diturunkan demi melindungi aset negara dan bukan bentrok dengan angkatan bersenjata Rusia.

Read more...

Inilah Perbandingan Militer Ukraina dan Rusia

0 komentar

Jika Ukraina dan Rusia benar-benar terlibat perang terbuka kira-kira apa yang akan terjadi?  Jika dilihat dari jumlah dan kekuatan militernya, maka Ukraina kalah jauh dibandingkan negeri tetangganya yang besar itu.

Pada 2012, personel aktif angkatan bersenjata Rusia berjumlah 845.000 orang, sementara angkatan bersenjata Ukraina hanya ditopang 130.000 personel.

Dari sisi anggaran militer kedua negara juga tak bisa disandingkan. Pada 2012 Rusia menghabiskan 78 miliar dolar AS untuk membiayai angkatan perangnya. Sedangkan Ukraina "hanya" 1,6 miliar dolar AS di tahun yang sama.

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada Juni 2011, seorang pakar militer mengatakan Ukraina akan berada dalam posisi defensif selama satu dekade jika anggaran militernya tak berubah.

Valentin Badrak, seorang direktur Pusat Studi Angkatan Bersenjata, Konversi dan Perlucutan Senjata Ukraina (CACDS) kepada harian Nezavisimaya Gazeta mengatakan saat ini program pengembangan Angkatan Bersenjata Ukraina (UAF) berada dalam "level nol".

Pemerintah Ukraina, mengacu para sebuah studi pada 2010, negeri itu tak membutuhkan angkatan bersenjata yang besar karena ancaman utama Ukraina bukan dari luar negeri melainkan dari destabilisasi di dalam negeri.

Tak hanya dari sisi anggaran saja Ukraina kalah dari Rusia, dari sisi sumber daya manusiapun Ukraina bukan tandingan Rusia. 

Menurut CIA World Factbook, Ukraina memiliki 15,7 juta pria dan wanita berusia 16-49 yang bisa menyandang senjata jika diperlukan.  Namun, jumlah itu kalah jauh dibandingkan Rusia yang memiliki 45,6 juta pria dan wanita di level usia yang sama.

Angka-angka itu lah yang kemungkinan memenuhi benak Menteri Pertahanan Ukraina, Ihor Tenyuh, saat menghadiri sebuah rapat tertutup di parlemen, Minggu (2/3/2014), membahas krisis yang tengah terjadi di Semenanjung Krimea.

Dua anggota parlemen yang hadir dalam rapat itu mengatakan Tenyuh menilai Ukraina tak memiliki kemampuan militer yang cukup kuat untuk melawan Rusia. Sehingga dia menyerukan jalur diplomasi untuk menyelesaikan krisis dengan Rusia.

Read more...
Sunday, 2 March 2014

Militer Ukraina Siaga Perang

0 komentar

 
Kiev:
Pemerintah sementara Ukraina menyatakan seluruh pasukan dalam status siaga tempur setelah parlemen Rusia memberikan restu pada pemerintahan Vladimir Putin untuk mengirim pasukan ke negara itu.

Pelaksana jabatan Presiden Olexander Turchynov juga menyatakan kesiagaan dilakukan termasuk dengan menempatkan penjagaan lebih ketat di lokasi strategis seperti fasilitas pembangkit nuklir.

Menurut Putin, pengiriman pasukan ke Ukraina di Krimea, sebuah wilayah otonom Ukraina yang condong pada Rusia, dilakukan untuk melindungi kepentingan Rusia di negara itu.

Putin berbicara selama 90 menit dengan Presiden AS Barack Obama tentang perkembangan terakhir Ukraina dan menyatakan negaranya berhak mempertahankan kepentingan Rusia di sana serta keselamatan para pendukung Rusia.

Sehari sebelumnya, muncul aksi protes dukungan terhadap Rusia di Ukraina di beberapa kota yang sebagian berakhir bentrok berdarah dengan pemrotes pendukung sikap pemerintah sementara di Kiev.

Sementara Obama, menurut pernyataan Gedung Putih, menyatakan cara terbaik mengatasi konflik adalah dengan cara damai lewat pembicaraan langsung.



Sekjen PBB Ban Ki-moon menyerukan agar dilakukan pendinginan situasi segera serta dialog langsung di Ukraina.

Komandan NATO Fogh Rasmussen menulis ciutan di Twitter: "De-eskalasi (ketegangan) segera di Krimea".

Dewan Keamanan PBB menggelar sidang darurat membahas masalah ini pada Sabtu (1/3) sementara NATO dan University Eropa menggelar sidang khusus dalam beberapa hari. (BBC)

Read more...

Parlemen Rusia Setujui Pengiriman Militer ke Ukraina

1 komentar

Majelis tinggi parlemen Rusia menyetujui pengiriman militer ke wilayah Ukraina. Keputusan ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan di wilayah Crimea, Ukraina.

Dilansir CNN, Sabtu (1/3/2014), keputusan ini diambil setelah Presiden Rusia Vladimir Putin meminta persetujuan untuk mengirimkan pasukan Rusia ke Crimea untuk menormalkan situasi politik di sana.

"Situasi yang luar biasa di Ukraina," kata Putin.

Putin menambahkan adanya ancaman terhadap kehidupan warga Rusia dan personel militer Rusia yang berbasis di wilayah selatan Crimea .

Sementara itu pihak Ukraina mengingatkan Rusia soal tindakannya tersebut yang telah melanggar kedaulatan suatu negara. "Kami menganggap tindakan Rusia sebagai agresi langsung terhadap kedaulatan Ukraina," kata seorang pejabat pemerintahan Rusia.

Saat ini pemerintah Ukraina tengah berupaya meredakan ketegangan di Criema di mana wilayah itu dihuni oleh mayoritas penduduk Rusia dan menuntut diadakannya referendum. 

Pihak internasional khawatir adanya intervensi militer Rusia di Ukraina, meski telah ada peringatan dari Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya untuk menghormati kedaulatan Ukraina.

"Intervensi militer Rusia di Ukraina jelas melanggar hukum internasional dan prinsip-prinsip keamanan Eropa," ujar Menlu Swedia Carl Bildt lewat akun twitternya.

Read more...
 
beritamiliterindonesia © 2014 | Designed By Blogger Templates